Kriteria Sakit yang Menjadi Alasan Diperbolehkannya Berbuka Menurut Imam Al-Qurthubi

Menurut bahasa, arti dari berpuasa adalah imsak atau menahan diri. Sedangkan menurut syara’, berpuasa adalah menahan diri dari hal-hal yang bisa membatalkannya dengan disertai niat, yang dimulai dari sejak terbit fajar shadiq hingga terbenamnya matahari.

Berpuasa di bulan Ramadlan merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima, dan merupakan suatu kewajiban asasi bagi setiap orang yang beriman, telah mencapai status baligh, berakal, muqim, suci dari haidl dan nifas, serta memiliki kemampuan untuk melaksanakan puasa, yaitu kemampuan secara fisik tidak sedang sakit dan secara syara’ tidak sedang mengalami haidl maupun nifas. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

يا أيها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون (183) أياما معدودات فمن كان منكم مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين فمن تطوع خيرا فهو خير له وأن تصوموا خير لكم إن كنتم تعلمون (184)

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (Yaitu) dalam beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang yang berat menjalankan puasa (jika dia tidak berpuasa) untuk membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebaikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 183-184)

Menurut ayat di atas, orang yang sakit diperbolehkan untuk tidak berpuasa di bulan Ramadlan, namun diharuskan menggantinya (qadla) di hari lain jika dia sudah kembali sehat, sesuai dengan jumlah hari yang dia tinggalkan. Namun, di bulan Ramadlan ini, kita perlu tahu, kategori sakit seperti apa yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa di bulan Ramadlan?

Di dalam kitab tafsir Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, Imam Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan bahwa status hukum berbuka (tidak berpuasa) bagi orang yang sakit ada saatnya wajib, dan ada saatnya sunnah. Wajib berbuka bagi orang yang sakit ketika sakitnya itu membuatnya sama sekali tidak mampu untuk berpuasa. Sedangkan jika sakitnya itu sekedar menimbulkan sedikit masyaqqat (kesulitan) atau jika tetap berpuasa akan berpengaruh pada sakitnya itu, maka berbuka baginya menjadi sunnah.

Ada beberapa pendapat mengenai kriteria sakit yang memperbolehkan seseorang untuk tidak berpuasa Ramadlan, yaitu:

1. Keadaan apapun yang dialami atau diderita oleh seseorang, sehingga dia layak disebut sedang “sakit”. Ini adalah pendapat dari Imam Muhammad bin Sirin rahimahullah.

2. Penyakit yang sedikit kritis atau yang membuat seseorang menderita, yang jika dia tetap memaksakan berpuasa, dikhawatirkan penyakitnya akan bertambah parah ataupun menjadi lebih lama sembuh. Ini adalah pendapat jumhur ‘ulama rahimahumullah.

3. Penyakit yang membuat seseorang tidak mampu untuk melaksanakan shalat dengan berdiri. Ini adalah pendapat Imam Hasan dan Imam An-Nakha’i rahimahumallah.

4. Penyakit yang memperbolehkan seseorang untuk berbuka adalah jika penyakit itu sendiri yang memaksa seseorang yang berpuasa untuk berbuka. Jika dia masih mampu untuk menahan rasa sakit yang dideritanya, maka dia tidak diperbolehkan berbuka. Ini adalah pendapat Imam Asy-Syafi’i rahimahullah.

Dari berbagai pendapat yang disebutkan di atas, menurut Imam Al-Qurthubi pendapat Imam Muhammad bin Sirin lah yang paling sesuai dan proporsional dalam permasalahan ini. Beliau menyatakan di dalam kitab Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an,

قول ابن سيرين أعدل شيء في هذا الباب إن شاء الله تعالى .قال البخاري : اعتللت بنيسابور علة خفيفة وذلك في شهر رمضان ، فعادني إسحاق بن راهويه في نفر من أصحابه فقال لي : أفطرت يا أبا عبد الله ؟ فقلت نعم ، فقال : خشيت أن تضعف عن قبول الرخصة . قلت : حدثنا عبدان عن ابن المبارك عن ابن جريج قال قلت لعطاء : من أي المرض أفطر ؟ قال : من أي مرض كان ، كما قال الله تعالى : فمن كان منكم مريضا.

“Insya’allah, pendapat Ibnu Sirin dalam permasalahan ini lebih sesuai. Imam Al-Bukhari berkata, ‘Saat aku sedang berada di Naisabur, aku menderita sakit ringan dan itu saat bulan Ramadlan. Lalu Imam Ishaq bin Rahawaih dan rombongan sahabat beliau datang menjengukku. Beliau berkata, ‘Apakah Engkau berbuka, wahai Abu ‘Abdillah?’ Maka aku menjawab, ‘Iya’. Beliau lalu bertanya, ‘Perihal mengambil rukhshah, apakah engkau khawatir dirimu akan bertambah lemah?’, maka aku berkata, ‘’Ibdan menceritakan kepada kami, dari Ibnu Al-Mubarak, dari Ibnu Juraij, beliau berkata, ‘Aku bertanya pada ‘Atha, ‘Sebab sakit yang seperti apa yang membolehkan aku berbuka?’, Beliau (Imam ‘Atha) berkata, ‘Sebab sakit apapun, sebagaimana Allah berfirman, ‘Maka barangsiapa di antara kalian sakit’.”

Demikian pendapat yang dikemukakan dan dikuatkan oleh Imam Al-Qurthubi rahimahullah. Wal hashil, jika di dalam bulan Ramadlan ini kita mengalami sakit, maka kita perlu memperhatikan kondisi kesehatan dan jenis sakit yang kita alami, sehingga kita tidak dhalim terhadap diri kita sendiri saat kita memilih untuk tetap berpuasa, dan kita juga tetap berpegang pada kondisi yang sesuai saat kita memilih untuk berbuka dan meng-qadla puasa tersebut di kemudian hari. Pun demikian, kita tetap berikhtiar dan berdo’a semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kita kekuatan dan kemudahan di dalam menjalankan ibadah puasa Ramadlan. آمين

Wallahu a’lam. []

Referensi:

1. Hasyiyah Al-Bajuri ‘ala Syarhi Al-‘Allamah Ibni Qasim Al-Ghazzi, karya Syaikh Ibrahim Al-Bajuri rahimahullah.

2. Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, karya Imam Al-Qurthubi rahimahullah.

Tinggalkan komentar