Tanda Diterima dan Tidaknya Ibadah Haji Seseorang

Imam ‘Ali Al-Khawwash berkata, bahwa di antara tanda diterimanya ibadah haji seseorang adalah sekembalinya dia, dia berakhlak dengan akhlak Nabi ﷺ, dia tidak mendekati (apalagi melakukan) perbuatan dosa, dia tidak melihat derajat dirinya di atas seorangpun dari hamba Allah Ta’ala, dan dia tidak berebut untuk mendapatkan sesuatupun dari perkara-perkara dunia hingga dia tutup usia.

Lanjutkan membaca “Tanda Diterima dan Tidaknya Ibadah Haji Seseorang”

Nasihat Sang Wanita Penggugat dan Keteladanan Sayyidina ‘Umar bin Al-Khaththab

Suatu ketika, Khaulah binti Hakim (qila: binti Tsa’labah) –beliau adalah wanita yang mengajukan gugatan berkenaan dengan persoalan dhihar yang dilakukan suaminya dan langsung direspon dengan turunnya Al-Qur’an surat Al-Mujadilah ayat 1 s.d. 4– berjumpa dengan Sayyidina ‘Umar bin Al-Khaththab radliyallahu ‘anhu di era kekhalifahan beliau.

Dalam perjumpaan itu, Khaulah meminta Sayyidina ‘Umar untuk berhenti dalam waktu yang lama, dan menasihati beliau. Khaulah berkata,

Lanjutkan membaca “Nasihat Sang Wanita Penggugat dan Keteladanan Sayyidina ‘Umar bin Al-Khaththab”

“Kumpul-kumpul” Dalam Tinjauan Fiqih

Sebagaimana aktivitas seorang mukallaf pada umumnya, aktivitas berkumpul yang dilakukan olehnya dengan orang lain tidak akan terlepas dari salah satu dari hukum taklifi yang lima: wajib (الوجوب), sunnah (الندب), mubah (الإباحة), makruh (الكراهة), dan haram (التحريم).

Pertama, adalah berkumpul yang hukumnya wajib. Misalnya berkumpul untuk melaksanakan shalat Jum’at secara berjama’ah.

Kedua, berkumpul yang hukumnya sunnah. Misalnya berkumpul untuk melaksanakan shalat fardlu lima waktu selain shalat Jum’at berdasarkan qaul mu’tamad menurut Syafi’iyyah, shalat dua hari raya, dan shalat tarawih, dan berkumpul untuk membaca Al-Qur’an atau berdzikir, berdasarkan hadits riwayat Imam Muslim:

Lanjutkan membaca ““Kumpul-kumpul” Dalam Tinjauan Fiqih”

Enam Macam Peringanan (Takhfif) Dalam Syari’at Islam

Disebutkan di dalam kitab Al-Asybah wa An-Nadha’ir oleh Imam As-Suyuthi, bahwa menurut keterangan Syaikh ‘Izzuddin bin ‘Abdissalam, peringanan (takhfif) dalam syari’at Islam ada 6 macam:

1. Takhfif isqath (pengguguran), seperti gugurnya kewajiban shalat Jum’at, haji, ‘umrah, dan jihad sebab adanya ‘udzur syar’i.

Lanjutkan membaca “Enam Macam Peringanan (Takhfif) Dalam Syari’at Islam”