Membaca Buku: Mengarungi Samudra Ilmu Tak Bertepi

Seseorang akan tetap berilmu selama dia terus belajar. Jika dia mulai merasa berilmu dan berkata, “Aku sudah tau”, maka sesungguhnya dia telah menjadi bodoh.

Perhatikanlah Nabi Musa عليه السلام ketika beliau tau bahwa ada seorang hamba Allah ﷻ yang lebih ‘alim dari beliau. Beliau berkelana ke berbagai negeri semata-mata untuk belajar darinya. Padahal, Nabi Musa عليه السلام adalah seorang kalimullah!

Ilmu adalah samudra tak bertepi. Hanya mereka yang belum berlayar yang mengira bahwa samudra hanyalah sepetak air!

Setiap buku yang kamu baca akan menambahkan sesuatu yang baru dalam dirimu dan menyingkap kebodohan yang sebelumnya tidak kamu sadari.

Tapi kamu harus ingat.

Ilmu perlu diamalkan.
Hati perlu dibersihkan.
Pikiran perlu dikembangkan.
Jiwa perlu dirawat dan diperindah.

Iblis telah dihancurkan oleh kesombongannya sendiri, bukan karena kurangnya ilmu. Dan mereka yang membuat kerusakan dan bencana di muka bumi ini, bukanlah orang-orang bodoh!

Pikirkan dan renungkan baik-baik: seberapa banyak hal yang telah kamu amalkan dibandingkan dengan hal yang kamu tau?!

Wallahu a’lam. []

Referensi:

Adham Syarqawi, Rasa’il min An-Nabi ﷺ, cet. Kalemat.

Catatan: foto diambil di @shiramedia, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta.

Bersabarlah, Perjuangan Menuntut Ilmu Tak Akan Pernah Sia-sia

I’anah Ath-Thalibin, juz 1 hal. 23, via Maktabah Syamilah.

Barangkali pernah terbersit dalam benak seorang santri, “Untuk apa aku datang ke majelis ilmu jika aku tak bisa paham apapun di sana?”, atau “Apa gunanya aku berangkat ke majelis ilmu jika aku mudah sekali melupakan hal-hal yang aku pelajari di sana seketika setelah aku pulang?”.

Lanjutkan membaca “Bersabarlah, Perjuangan Menuntut Ilmu Tak Akan Pernah Sia-sia”

Pandangan Orang Lain Terhadap Amal Kita Tidaklah Penting

Kifayah Al-Atqiya’, karya Sayyid Abu Bakr Syatha cet. Kasyidah

Memperlihatkan ibadah dan amal kebaikan kepada manusia untuk mendapatkan perhatian, pandangan dan penilaian dari mereka adalah termasuk hal yang tidak diperkenankan dan sia-sia belaka.

Bahkan, keimanan seseorang tidaklah sempurna sehingga dia meyakini dan menganggap bahwa pandangan manusia terhadap amal perbuatannya itu sama halnya dengan pandangan hewan-hewan, yakni sama-sama tidak penting. Seseorang yang berkeyakinan dan menganggap demikian, maka kehadiran manusia di sisinya ketika dia beramal tak akan mengotori keikhlasannya, dan kesendiriannya ketika dia beramal tak akan mengurangi semangatnya.

Lanjutkan membaca “Pandangan Orang Lain Terhadap Amal Kita Tidaklah Penting”

Susu vs Madu: Mana yang Lebih Utama?

Tangkapan layar Al-Fatawa Al-Haditsiyyah, hal. 132, Maktabah Syamilah.

Orang-orang pada umumnya mengira madu lebih utama daripada susu. Padahal, sebagaimana fatwa Imam Ibnu Hajar Al-Haitami, mengutip penjelasan Imam As-Suyuthi, bahwa yang sesuai menurut petunjuk dalil-dalil, susu lebih utama daripada madu.

Di dalam kitab Al-Fatawa Al-Haditsiyyah, beliau memaparkan beberapa dalil berikut:

Lanjutkan membaca “Susu vs Madu: Mana yang Lebih Utama?”