Bersabarlah, Perjuangan Menuntut Ilmu Tak Akan Pernah Sia-sia

I’anah Ath-Thalibin, juz 1 hal. 23, via Maktabah Syamilah.

Barangkali pernah terbersit dalam benak seorang santri, “Untuk apa aku datang ke majelis ilmu jika aku tak bisa paham apapun di sana?”, atau “Apa gunanya aku berangkat ke majelis ilmu jika aku mudah sekali melupakan hal-hal yang aku pelajari di sana seketika setelah aku pulang?”.

Lanjutkan membaca “Bersabarlah, Perjuangan Menuntut Ilmu Tak Akan Pernah Sia-sia”

Memaknai Hari Raya ‘Idul Fitri 1444 H

Keluarga besar Balongkiai, 1 Syawwal 1444 H.

Hari raya ‘Idul Fitri yang sejati bukanlah bagi
orang yang bersuka cita dengan berbagai model busana terbaru dan menikmati berbagai hidangan lezat yang menggugah selera.

Al-Imam Al-Habib ‘Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur Al-Husaini rahimahullah berkata,

وقد جعل الله للمؤمنين ثلاثة أيام عيدا: الجمعة، والفطر، والأضحى، وكلها بعد إكمال العبادة، وليس العيد لمن لبس الجديد، بل لمن طاعته تزيد، ولا لمن تجمل بالملبوس والمركوب، بل لمن غفرت له الذنوب

Lanjutkan membaca “Memaknai Hari Raya ‘Idul Fitri 1444 H”

Perbuatan Sama, Namun Konsekuensinya Bisa Berbeda

Marah Labid li Kasyfi Ma’na Al-Qur’an Al-Majid (Tafsir Munir), karya Syaikh Nawawi Banten, pembahasan tafsir Q.S. Al-Qadr.

Dalam literatur kaidah fiqih, dikenal satu kaidah yang sangat masyhur:

ما كان أكثر فعلا كان أكثر فضلا

“Ketaatan yang lebih banyak perbuatannya, lebih banyak pahalanya.”

Namun, kenapa justru suatu ibadah yang dilakukan pada lailatul qadar lebih utama dibandingkan dengan ibadah yang sama yang dilakukan dalam seribu bulan yang tidak ada lailatul qadarnya? Padahal, ketaatan/ibadah selama seribu bulan itu jauh lebih berat dalam pelaksanaannya daripada ketaatan/ibadah di satu malam (lailatul qadar) saja.

Lanjutkan membaca “Perbuatan Sama, Namun Konsekuensinya Bisa Berbeda”