Sesuatu yang Tidak Kita Sukai Tidaklah Selalu Buruk

Kopi dan kitab.

Kegagalan, kesulitan, rasa sakit, dan perpisahan. Mungkin itu adalah beberapa hal yang tidak kita sukai di dunia ini. Hal yang seringkali memunculkan rasa sedih, kecewa, atau bahkan frustasi. 

Sebenarnya, sesuatu yang tidak kita sukai tidaklah selalu buruk. Justru, hal yang buruk adalah menganggap buruk terhadap semua hal yang tidak kita sukai. Karena kita tidak tau hikmah dan kebaikan yang Allah telah siapkan di balik itu.

Lanjutkan membaca “Sesuatu yang Tidak Kita Sukai Tidaklah Selalu Buruk”

2023 Berlalu: Jika Setiap Hari Tak Selamat dari Dosa, Lantas Apa yang Dirayakan?

Syarh Mandhumah Al-Asma’ Al-Husna, karya Syaikh Ahmad bin Muhammad Ash-Shawi Al-Maliki Al-Azhari.

Berikut ini adalah sebuah hikayat berharga yang dituturkan oleh Imam Syihabuddin Al-Qalyubi di dalam An-Nawadir, tentang seseorang yang telah dijadikan oleh Allah sebagai evaluator atas dirinya sendiri.

Dikisahkan, ada seorang lelaki yang berusaha untuk mengevaluasi dirinya sendiri. Pertama, dia memulainya dengan menghitung umurnya sendiri. Dia temukan saat itu usianya telah mencapai 60 tahun!

Lanjutkan membaca “2023 Berlalu: Jika Setiap Hari Tak Selamat dari Dosa, Lantas Apa yang Dirayakan?”

Perbuatan Sama, Namun Konsekuensinya Bisa Berbeda

Marah Labid li Kasyfi Ma’na Al-Qur’an Al-Majid (Tafsir Munir), karya Syaikh Nawawi Banten, pembahasan tafsir Q.S. Al-Qadr.

Dalam literatur kaidah fiqih, dikenal satu kaidah yang sangat masyhur:

ما كان أكثر فعلا كان أكثر فضلا

“Ketaatan yang lebih banyak perbuatannya, lebih banyak pahalanya.”

Namun, kenapa justru suatu ibadah yang dilakukan pada lailatul qadar lebih utama dibandingkan dengan ibadah yang sama yang dilakukan dalam seribu bulan yang tidak ada lailatul qadarnya? Padahal, ketaatan/ibadah selama seribu bulan itu jauh lebih berat dalam pelaksanaannya daripada ketaatan/ibadah di satu malam (lailatul qadar) saja.

Lanjutkan membaca “Perbuatan Sama, Namun Konsekuensinya Bisa Berbeda”

Perbedaan Pendapat Ulama Seputar Waktu Wajibnya Bershalawat atas Nabi ﷺ

Kaligrafi bertuliskan redaksi shalawat atas Nabi ﷺ, “Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad”.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu atas Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Q.S. Al-Ahzab: 56)

Ayat ini, berdasarkan penjelasan dari Imam Ar-Razi rahimahullah di dalam At-Tafsir Al-Kabir, adalah dalil atas wajibnya bershalawat atas Nabi ﷺ. Beliau berkata,

المسألة الثانية: هذا دليل على مذهب الشافعي لأن الأمر للوجوب فتجب الصلاة على النبي عليه السلام ولا تجب في غير التشهد فتجب في التشهد

“(Permasalahan kedua) Ayat ini adalah dalil menurut madzhab Asy-Syafi’i, karena sesungguhnya asal dari perintah itu menunjukkan pada hukum wajib, maka wajib hukumnya bershalawat atas Nabi . Shalawat tidak wajib di selain tasyahhud, dan wajib di dalam tasyahhud.”

Lantas, apa makna Allah dan para malaikat bershalawat atas Nabi ﷺ? Apakah sama sebagaimana shalawat kita atas beliau ﷺ?

Lanjutkan membaca “Perbedaan Pendapat Ulama Seputar Waktu Wajibnya Bershalawat atas Nabi ﷺ”