Nasihat Sang Wanita Penggugat dan Keteladanan Sayyidina ‘Umar bin Al-Khaththab

Suatu ketika, Khaulah binti Hakim (qila: binti Tsa’labah) –beliau adalah wanita yang mengajukan gugatan berkenaan dengan persoalan dhihar yang dilakukan suaminya dan langsung direspon dengan turunnya Al-Qur’an surat Al-Mujadilah ayat 1 s.d. 4– berjumpa dengan Sayyidina ‘Umar bin Al-Khaththab radliyallahu ‘anhu di era kekhalifahan beliau.

Dalam perjumpaan itu, Khaulah meminta Sayyidina ‘Umar untuk berhenti dalam waktu yang lama, dan menasihati beliau. Khaulah berkata,

Lanjutkan membaca “Nasihat Sang Wanita Penggugat dan Keteladanan Sayyidina ‘Umar bin Al-Khaththab”

“Kumpul-kumpul” Dalam Tinjauan Fiqih

Sebagaimana aktivitas seorang mukallaf pada umumnya, aktivitas berkumpul yang dilakukan olehnya dengan orang lain tidak akan terlepas dari salah satu dari hukum taklifi yang lima: wajib (الوجوب), sunnah (الندب), mubah (الإباحة), makruh (الكراهة), dan haram (التحريم).

Pertama, adalah berkumpul yang hukumnya wajib. Misalnya berkumpul untuk melaksanakan shalat Jum’at secara berjama’ah.

Kedua, berkumpul yang hukumnya sunnah. Misalnya berkumpul untuk melaksanakan shalat fardlu lima waktu selain shalat Jum’at berdasarkan qaul mu’tamad menurut Syafi’iyyah, shalat dua hari raya, dan shalat tarawih, dan berkumpul untuk membaca Al-Qur’an atau berdzikir, berdasarkan hadits riwayat Imam Muslim:

Lanjutkan membaca ““Kumpul-kumpul” Dalam Tinjauan Fiqih”

Kekayaan & Kemiskinan Bukan Tolak Ukur Kemuliaan (Tafsir Q.S. Al-Fajr: 15-16)

Tafsir Al-Baghawi, pembahasan tafsir surat Al-Fajr.

Kekayaan dan kemiskinan bukanlah tolak ukur kemuliaan seseorang di sisi Allah. Kekayaan dan kemiskinan tidak lain adalah ujian semata. Allah Ta’ala berfirman:

فأما ٱلإنسـٰن إذا ما ٱبتلىٰه ربهۥ فأكرمهۥ ونعمهۥ فیقول ربی أكرمن (١٥) وأما إذا ما ٱبتلىٰه فقدر علیه رزقهۥ فیقول ربی أهـٰنن (١٦)

“Adapun manusia, jika Tuhannya mengujinya (dengan kenikmatan) lalu memuliakannya (dengan harta) dan memberinya kenikmatan (dengan melapangkan hartanya), maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku’.  Adapun jika Tuhannya mengujinya (dengan kemiskinan) lalu membatasi rejekinya, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinaku’.” (Q.S. Al-Fajr: 15-16)

Lanjutkan membaca “Kekayaan & Kemiskinan Bukan Tolak Ukur Kemuliaan (Tafsir Q.S. Al-Fajr: 15-16)”

Merasa Lebih Baik Dari Pelaku Dosa

Imam Ath-Thabari  rahimahullah meriwayatkan dari Hafs bin Humaid, bahwa suatu ketika beliau berkata kepada Imam Ibnu Al-Mubarak rahimahullah,

رأيت رجلا قتل رجلا ظلما، فقلت في نفسي: أنا أفضل من هذا

“Aku melihat seseorang membunuh orang lain secara lalim. Lalu aku berkata pada diriku sendiri, ‘Aku lebih baik dari orang ini’.”

Lanjutkan membaca “Merasa Lebih Baik Dari Pelaku Dosa”