Perbuatan Sama, Namun Konsekuensinya Bisa Berbeda

Marah Labid li Kasyfi Ma’na Al-Qur’an Al-Majid (Tafsir Munir), karya Syaikh Nawawi Banten, pembahasan tafsir Q.S. Al-Qadr.

Dalam literatur kaidah fiqih, dikenal satu kaidah yang sangat masyhur:

ما كان أكثر فعلا كان أكثر فضلا

“Ketaatan yang lebih banyak perbuatannya, lebih banyak pahalanya.”

Namun, kenapa justru suatu ibadah yang dilakukan pada lailatul qadar lebih utama dibandingkan dengan ibadah yang sama yang dilakukan dalam seribu bulan yang tidak ada lailatul qadarnya? Padahal, ketaatan/ibadah selama seribu bulan itu jauh lebih berat dalam pelaksanaannya daripada ketaatan/ibadah di satu malam (lailatul qadar) saja.

Lanjutkan membaca “Perbuatan Sama, Namun Konsekuensinya Bisa Berbeda”

Perbedaan Pendapat Ulama Seputar Waktu Wajibnya Bershalawat atas Nabi ﷺ

Kaligrafi bertuliskan redaksi shalawat atas Nabi ﷺ, “Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad”.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu atas Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Q.S. Al-Ahzab: 56)

Ayat ini, berdasarkan penjelasan dari Imam Ar-Razi rahimahullah di dalam At-Tafsir Al-Kabir, adalah dalil atas wajibnya bershalawat atas Nabi ﷺ. Beliau berkata,

المسألة الثانية: هذا دليل على مذهب الشافعي لأن الأمر للوجوب فتجب الصلاة على النبي عليه السلام ولا تجب في غير التشهد فتجب في التشهد

“(Permasalahan kedua) Ayat ini adalah dalil menurut madzhab Asy-Syafi’i, karena sesungguhnya asal dari perintah itu menunjukkan pada hukum wajib, maka wajib hukumnya bershalawat atas Nabi . Shalawat tidak wajib di selain tasyahhud, dan wajib di dalam tasyahhud.”

Lantas, apa makna Allah dan para malaikat bershalawat atas Nabi ﷺ? Apakah sama sebagaimana shalawat kita atas beliau ﷺ?

Lanjutkan membaca “Perbedaan Pendapat Ulama Seputar Waktu Wajibnya Bershalawat atas Nabi ﷺ”

Hukum Al-Amr bil Ma’ruf dan An-Nahy ‘anil Munkar dalam Perspektif Syaikh Nawawi Al-Bantani, Tafsir Q.S. Ali ‘Imran: 104

Halaman sampul kitab tafsir Marah Labid li Kasyfi Ma’na Al-Qur’an Al-Majid, karya Syaikh Nawawi Al-Bantani rahimahullah, cetakan Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, Beirut.

Di dalam kitab Marah Labid li Kasyfi Ma’na Al-Qur’an Al-Majid, Syaikh Nawawi Al-Bantani rahimahullah menjelaskan, bahwa hukum menyuruh kepada yang ma’ruf (al-amr bil ma’ruf) itu mengikuti hukum perkara yang diperintahkan. Jika hukum perkara yang diperintahkan itu adalah wajib, maka hukum al-amr bil ma’ruf nya adalah wajib. Sedangkan jika hukum perkara yang diperintahkan adalah sunnah, maka hukum al-amr bil ma’ruf nya adalah sunnah.

Lanjutkan membaca “Hukum Al-Amr bil Ma’ruf dan An-Nahy ‘anil Munkar dalam Perspektif Syaikh Nawawi Al-Bantani, Tafsir Q.S. Ali ‘Imran: 104”

Dua Syarat Diterimanya Sebuah ‘Amal

Mauidhah Hasanah dalam rangka acara Silaturrahim Halal Bihalal dan Haul Simbah H. Abdullah Mukhtar dan Simbah Hj. Siti Zubaidah (Kroya, 4 Syawwal 1443 H)

Terdapat dua hal penting yang harus senantiasa diistiqamahi oleh seorang muslim, yaitu istiqamah belajar ikhlas, dengan senantiasa menata hati dan meluruskan niat dalam beramal dan beribadah, dan istiqamah belajar ilmu syari’at (fiqih Islam). Hal ini dikarenakan diterimanya suatu ‘amal sangat bergantung pada keduanya.

Imam An-Nawawi rahimahullah di dalam kitab Bustanul ‘Arifin (hlm. 103) berkata,

Lanjutkan membaca “Dua Syarat Diterimanya Sebuah ‘Amal”