‘Ibadah Itu Seperti Halnya Sebuah Pohon, dan Ikhlas adalah Buahnya

Pada tulisan saya sebelumnya (yang diposting pada tanggal 13 Mei 2022) mengenai syarat diterimanya sebuah ‘ibadah, disebutkan oleh Imam An-Nawawi rahimahullah di dalam Bustan Al-‘Arifin, berdasarkan penjelasan dari Imam Al-Fudlail bin ‘Iyadl atas Q.S. Al-Mulk ayat 2, bahwa syarat diterimanya sebuah ibadah ada dua, yaitu:
1. Ikhlas, yaitu dilakukan semata karena Allah Ta’ala, dan
2. Benar, yaitu dilakukan sesuai tuntunan dari Rasulullah ﷺ.

Menurut Imam Al-Fudlail bin ‘Iyadl rahimahullah, sebuah ‘ibadah tidaklah akan diterima oleh Allah Ta’ala jika dilakukan tanpa keikhlasan, sekalipun pelaksanaan ibadah tersebut memenuhi syarat-syarat dan rukun-rukunnya. Demikian pula jika suatu ibadah telah dilakukan dengan ikhlas, namun mengabaikan syarat-syarat dan rukun-rukunnya.

Lanjutkan membaca “‘Ibadah Itu Seperti Halnya Sebuah Pohon, dan Ikhlas adalah Buahnya”

Empat Syarat Menjadi Wali Allah Menurut Syaikh Ibrahim Al-Bajuri

Halaman sampul Hasyiyah Al-Bajuri ‘ala Kifayah Al-‘Awamm, cet. Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, Beirut, edisi I, tahun 2007.

Di dalam kitab Tahqiq Al-Maqam ‘ala Kifayah Al-‘Awamm, Syaikh Ibrahim Al-Bajuri rahimahullah menjelaskan, bahwa seseorang tidaklah menjadi wali Allah Ta’ala, kecuali dengan terpenuhinya 4 syarat, yaitu:

1. Dia adalah seorang yang ‘arif, yaitu seseorang yang mengetahui pokok-pokok agama (ushuluddin), sehingga dia bisa membedakan antara (sifat-sifat) Sang Maha Pencipta (Al-Khaliq) dan ciptaan (al-makhluq), dan bisa membedakan antara nabi yang benar dan orang yang hanya mengklaim kenabian.

Lanjutkan membaca “Empat Syarat Menjadi Wali Allah Menurut Syaikh Ibrahim Al-Bajuri”

5 Aspek Tafakkur Menurut Penjelasan Syaikh Nawawi Banten

Syaikh Nawawi Banten rahimahullah, mahaguru para ‘ulama Nusantara. Lukisan Syaikh Nawawi Banten oleh Kang Alam ini diambil dari https://id.m.wikipedia.org/wiki/Nawawi_al-Bantani, diakses tanggal 5 Desember 2022.

Syaikh Nawawi Al-Bantani rahimahullah menjelaskan di dalam kitab Kasyifatus Saja Syarh Safinah An-Naja, bahwa tafakkur (kontemplasi) menurut para ‘ulama itu mencakup 5 aspek. Beliau berkata,

فائدة قال جمهور العلماء إن التفكر على خمسة أوجه إما في آيات الله ويلزمه التوجه إليه واليقين به أو في نعمة الله ويتولد عنه المحبة أو في وعد الله ويتولد عنه الرغبة أو في وعيد الله ويتولد عنه الرهبة أو في تقصير النفس عن الطاعة ويتولد عنه الحياء

Lanjutkan membaca “5 Aspek Tafakkur Menurut Penjelasan Syaikh Nawawi Banten”

Ternyata, Bekerja Tidak Selalu Bernilai Ibadah


Halaman muka kitab Al-Qawa’id Al-Kubra, karya Syaikh ‘Izzuddin bin ‘Abdissalam rahimahullah.

Untuk memotivasi kaum muslimin agar semakin giat bekerja, tidak jarang kita mendengar sebuah ungkapan yang begitu populer, yaitu ungkapan “bekerja adalah ibadah”.

Ungkapan tersebut tidaklah sepenuhnya keliru, bahkan sesuai dengan keterangan yang disebutkan oleh para ‘ulama rahimahumullah, bahwa seseorang yang bekerja untuk mencukupi kebutuhan nafkah keluarga dan untuk menjaga kehormatan diri dan keluarga dari meminta-minta, maka dia akan datang pada hari kiamat dengan wajah yang terang bagaikan rembulan. Dalam hal ini, Syaikh Nawawi Al-Bantani rahimahullah berkata,

Lanjutkan membaca “Ternyata, Bekerja Tidak Selalu Bernilai Ibadah”