Benarkah Siapapun Boleh Berijtihad dan Menyimpulkan Hukum Sendiri Secara Langsung dari Al-Qur’an dan Hadits?

Halaman sampul kitab Al-Minhaj fi Syarh Shahih Muslim Ibn Al-Hajjaj, syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, cetakan Bait Al-Afkar Ad-Dauliyyah.

Benarkah siapapun tanpa terkecuali (sekalipun ‘awam) boleh berijtihad dan menyimpulkan hukum sendiri secara langsung dari Al-Qur’an dan hadits?

Lanjutkan membaca “Benarkah Siapapun Boleh Berijtihad dan Menyimpulkan Hukum Sendiri Secara Langsung dari Al-Qur’an dan Hadits?”

Dua Syarat Diterimanya Sebuah ‘Amal

Mauidhah Hasanah dalam rangka acara Silaturrahim Halal Bihalal dan Haul Simbah H. Abdullah Mukhtar dan Simbah Hj. Siti Zubaidah (Kroya, 4 Syawwal 1443 H)

Terdapat dua hal penting yang harus senantiasa diistiqamahi oleh seorang muslim, yaitu istiqamah belajar ikhlas, dengan senantiasa menata hati dan meluruskan niat dalam beramal dan beribadah, dan istiqamah belajar ilmu syari’at (fiqih Islam). Hal ini dikarenakan diterimanya suatu ‘amal sangat bergantung pada keduanya.

Imam An-Nawawi rahimahullah di dalam kitab Bustanul ‘Arifin (hlm. 103) berkata,

Lanjutkan membaca “Dua Syarat Diterimanya Sebuah ‘Amal”

Orang Beristighfar Namun Dibenci oleh Allah Ta’ala

Di dalam kitab Bustanul ‘Arifin, Imam An-Nawawi rahimahullah meriwayatkan suatu kalam hikmah dari guru beliau, Al-Imam Al-Hafidh Abu Al-Baqa’ rahimahullah, dari Syaikh Abu Muhammad ‘Abdul ‘Aziz bin Ma’ali, dari Al-Qadli Abu Bakr Muhammad bin ‘Abdil Baqi Al-Anshari, dari Al-Imam Al-Hafidh Abu Bakr Al-Khatib, dari Al-Imam Al-Hafidh Abu Al-Fath Muhammad bin Ahmad bin Abi Al-Fawaris, dari Muhammad bin Ahmad Al-Warraq, beliau berkata,

Lanjutkan membaca “Orang Beristighfar Namun Dibenci oleh Allah Ta’ala”