Tangkapan layar kitab Tuhfah At-Thullab bi Syarhi Matni Tahrir Tanqih Al-Lubab, karya Syaikhul Islam Zakariyya Al-Anshari rahimahullah, hal. 10, cetakan Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah Beirut, Lebanon, th. 1997.
Di dalam kitab Tuhfah At-Thullab bi Syarhi Matni Tahrir Tanqih Al-Lubab, Syaikhul Islam Zakariyya Al-Anshari rahimahullah menyatakan, bahwa berwudlu’ itu disunnahkan dalam beberapa kondisi, di antaranya adalah: ketika marah, setelah melakukan ghibah, dan setelah mengucapkan hal-hal yang tercela, seperti cemoohan, dusta, tuduhan palsu, persaksian palsu, sumpah palsu, dll.
Pada tulisan saya sebelumnya (yang diposting pada tanggal 13 Mei 2022) mengenai syarat diterimanya sebuah ‘ibadah, disebutkan oleh Imam An-Nawawi rahimahullah di dalam Bustan Al-‘Arifin, berdasarkan penjelasan dari Imam Al-Fudlail bin ‘Iyadl atas Q.S. Al-Mulk ayat 2, bahwa syarat diterimanya sebuah ibadah ada dua, yaitu: 1. Ikhlas, yaitu dilakukan semata karena Allah Ta’ala, dan 2. Benar, yaitu dilakukan sesuai tuntunan dari Rasulullah ﷺ.
Menurut Imam Al-Fudlail bin ‘Iyadl rahimahullah, sebuah ‘ibadah tidaklah akan diterima oleh Allah Ta’ala jika dilakukan tanpa keikhlasan, sekalipun pelaksanaan ibadah tersebut memenuhi syarat-syarat dan rukun-rukunnya. Demikian pula jika suatu ibadah telah dilakukan dengan ikhlas, namun mengabaikan syarat-syarat dan rukun-rukunnya.
Pintu dan tiang-tiang di komplek maqbarahsyarifah Baginda Nabi Muhammad ﷺ
Imam An-Nawawi rahimahullah meriwayatkan di dalam kitab beliau yang berjudul Al-Idlah fil Manasik, tentang kisah seorang Badui (A’rabiy) saat berziarah ke maqbarah syarifah Baginda Nabi Muhammad ﷺ. Beliau berkata,
“Termasuk sebaik-baiknya ucapan tentang bertawassul pada Rasulullah ﷺ adalah apa yang dinilai bagus dan yang diriwayatkan oleh para ‘ulama dari Al-‘Utbiy, beliau (Al-‘Utbiy) berkata,
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu atas Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Q.S. Al-Ahzab: 56)
Ayat ini, berdasarkan penjelasan dari Imam Ar-Razi rahimahullah di dalam At-Tafsir Al-Kabir, adalah dalil atas wajibnya bershalawat atas Nabi ﷺ. Beliau berkata,
المسألة الثانية: هذا دليل على مذهب الشافعي لأن الأمر للوجوب فتجب الصلاة على النبي عليه السلام ولا تجب في غير التشهد فتجب في التشهد
“(Permasalahan kedua) Ayat ini adalah dalil menurut madzhab Asy-Syafi’i, karena sesungguhnya asal dari perintah itu menunjukkan pada hukum wajib, maka wajib hukumnya bershalawat atas Nabi ﷺ. Shalawat tidak wajib di selain tasyahhud, dan wajib di dalam tasyahhud.”
Lantas, apa makna Allah dan para malaikat bershalawat atas Nabi ﷺ? Apakah sama sebagaimana shalawat kita atas beliau ﷺ?