Aurat Laki-laki dan Perempuan: Batasan dan Penjelasannya

Peta konsep pembahasan aurat laki-laki dan perempuan yang disarikan dari kitab Kasyifatus Saja fi Syarhi Safinatin Naja karya Syaikh Nawawi Al-Bantani.

Menurut bahasa, aurat berarti kekurangan dan sesuatu yang dipandang buruk. Sedangkan menurut syara’, aurat berarti sesuatu yang wajib ditutup di dalam shalat ataupun di luar shalat dan haram untuk dilihat.

Penjelasan ringkas mengenai batasan aurat laki-laki dan perempuan menurut madzhab Imam Asy-Syafi’i rahimahullah adalah sebagai berikut:

1. Aurat laki-laki, walaupun seorang kafir, atau seorang budak, ataupun anak kecil walaupun belum mumayyiz, maka auratnya adalah:

a. Ketika di dalam shalat: auratnya adalah area di antara pusar dan lutut.
b. Bagi mahram dan sesama laki-laki: auratnya adalah area di antara pusar dan lutut.

Lanjutkan membaca “Aurat Laki-laki dan Perempuan: Batasan dan Penjelasannya”

Beberapa Poin Penting Mengenai Shalat ‘Idul Fitri dan Hal-hal Lain yang Berkaitan Dengannya

Menjelang hari raya ‘Idul Fitri 1444 H, berikut ini saya tuliskan beberapa poin penting mengenai shalat hari raya ‘Idul Fitri dan hal-hal lain yang berkaitan dengannya:

1. Shalat hari raya ‘Idul Fitri termasuk shalat sunnah yang dianjurkan untuk dikerjakan secara berjama’ah.

2. Waktu pelaksanaannya adalah di antara waktu terbit dan tergelincirnya matahari pada tanggal 1 Syawwal. Disunnahkan untuk menunda pelaksanaan hingga matahari meninggi 4 derajat atau 16 menit. Jika dilaksanakan sebelum matahari meninggi, maka menurut qaul yang mu’tamad hukumnya khilaful aula (sedangkan menurut Syaikhul Islam Zakariyya Al-Anshari, hukumnya makruh).

Lanjutkan membaca “Beberapa Poin Penting Mengenai Shalat ‘Idul Fitri dan Hal-hal Lain yang Berkaitan Dengannya”

Perbuatan Sama, Namun Konsekuensinya Bisa Berbeda

Marah Labid li Kasyfi Ma’na Al-Qur’an Al-Majid (Tafsir Munir), karya Syaikh Nawawi Banten, pembahasan tafsir Q.S. Al-Qadr.

Dalam literatur kaidah fiqih, dikenal satu kaidah yang sangat masyhur:

ما كان أكثر فعلا كان أكثر فضلا

“Ketaatan yang lebih banyak perbuatannya, lebih banyak pahalanya.”

Namun, kenapa justru suatu ibadah yang dilakukan pada lailatul qadar lebih utama dibandingkan dengan ibadah yang sama yang dilakukan dalam seribu bulan yang tidak ada lailatul qadarnya? Padahal, ketaatan/ibadah selama seribu bulan itu jauh lebih berat dalam pelaksanaannya daripada ketaatan/ibadah di satu malam (lailatul qadar) saja.

Lanjutkan membaca “Perbuatan Sama, Namun Konsekuensinya Bisa Berbeda”