Jumlah Hitungan Hari Bulan Ramadlan: Boleh 29 atau Harus 30 Hari?

Alhamdulillah. Kewajiban berpuasa Ramadlan tahun ini, 1443 H, telah kita tunaikan dengan maksimal, berbekal keimanan dan ilmu, serta mengharap pahala dan keridlaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah menerima seluruh rangkaian amal ibadah kita di bulan Ramadlan ini, teriring doa,

تقبل الله منا ومنكم صيامنا وصيامكم وجعلنا من العائدين والفائزين.

Aamiiin ya Rabbal ‘aalamiiin.

Namun, sebagaimana yang telah kita ketahui, terdapat perbedaan permulaan 1 Ramadlan tahun 1443 H ini. Bagi kaum muslimin yang mengamalkan hasil hisab dan memulai 1 Ramadlan pada tanggal 2 April 2022, ibadah puasa yang dilakukan adalah genap 30 hari. Sedangkan bagi kaum muslimin yang mengamalkan hasil ru’yah dan berdasarkan keputusan sidang itsbat Kementerian Agama RI, mereka memulai 1 Ramadlan pada tanggal 3 April 2022. Wal hashil, mereka hanya melaksanakan ibadah puasa tahun ini selama 29 hari saja.

Walaupun tidak genap 30 hari, tidak ada kewajiban bagi kaum muslimin yang berpuasa hanya 29 hari untuk menambah 1 hari lagi (setelah 1 Syawwal) untuk menggenapkannya menjadi 30 hari.

Sebagaimana yang kita ketahui, puasa Ramadlan diwajibkan pada Sya’ban tahun ke-2 hijriyyah. Berdasarkan itu, tercatat Nabi ﷺ melewati sembilan kali Ramadlan, yang mana hanya 1 kali Ramadlan yang berjumlah 30 hari (kamil), sedangkan 8 Ramadlan sisanya hanya 29 hari (naqish). Lalu, apa hikmah dan pelajaran yang dapat diambil? Syaikh Al-Azhar Ibrahim Al-Bajuri rahimahullah berkata,

ولعله الحكمة في ذلك: تطمين نفوس من يصومه ناقصا من أمته، والتنبيه على مساواة الناقص للكامل من حيث الثواب المترتب على أصل صوم رمضان.

“Boleh jadi hikmah dalam hal itu adalah: sebagai penentram (penenang) jiwa orang-orang dari umat beliau yang berpuasa Ramadlan 29 hari, dan menjadi peringatan atas penyetaraan (ekuivalensi) Ramadlan 29 dengan Ramadlan 30 hari dari sisi pahala yang diperoleh dari asal puasa Ramadlan.”

Jadi, tidak masalah bagi kita kaum muslimin yang hanya berpuasa 29 hari, karena memang hitungan hari bulan Ramadlan yang ada berdasarkan ru’yah bil fi’li hanya 29 hari. Tidak masalah, dan pahala yang diperoleh tetaplah sempurna (sama sempurnanya dengan berpuasa dalam hitungan yang kamil, 30 hari).

Apalagi, kita kaum muslimin yang memulai berpuasa 1 Ramadlan pada tanggal 3 April dan berlebaran ‘Idul Fitri (1 Syawwal) pada tanggal 2 Mei 2022 tidaklah menentukan awal dan akhir Ramadlan kecuali berdasarkan hadits Nabi ﷺ. Syaikh Ibrahim Al-Bajuri rahimahullah berkata,

ويجب صوم رمضان على سبيل العموم أي عموم الناس باستكمال شعبان ثلاثين يوما أو ثبوت رؤية الهلال ليلة الثلاثين من شعبان عند حاكم لقوله ﷺ صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غم عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين يوما.

“Puasa Ramadlan wajib atas umumnya kaum muslimin dengan istikmal Sya’ban 30 hari atau dengan tetapnya ru’yatul hilal pada malam 30 Sya’ban menurut hakim (pemerintah), berdasarkan sabda Nabi ﷺ, ‘Berpuasalah karena melihat hilal, dan berhentilah puasa (berlebaranlah) karena melihat hilal. Maka jika hilal tertutupi mendung, maka sempurnakan hitungan Sya’ban 30 hari’.”

Wallahu a’lam. []

Referensi:
(1) Hasyiyah Al-Bajuri ‘ala Syarh Ibni Qasim Al-Ghazzi, Jeddah: Dar Al-Minhaj, 2016, jilid 2, hal. 401 s.d. 402.
(2) Shahih Al-Bukhari no. 1909, Shahih Muslim no. 1081, dari hadits shahabat Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu.

Tinggalkan komentar