Dua Syarat Diterimanya Sebuah ‘Amal

Mauidhah Hasanah dalam rangka acara Silaturrahim Halal Bihalal dan Haul Simbah H. Abdullah Mukhtar dan Simbah Hj. Siti Zubaidah (Kroya, 4 Syawwal 1443 H)

Terdapat dua hal penting yang harus senantiasa diistiqamahi oleh seorang muslim, yaitu istiqamah belajar ikhlas, dengan senantiasa menata hati dan meluruskan niat dalam beramal dan beribadah, dan istiqamah belajar ilmu syari’at (fiqih Islam). Hal ini dikarenakan diterimanya suatu ‘amal sangat bergantung pada keduanya.

Imam An-Nawawi rahimahullah di dalam kitab Bustanul ‘Arifin (hlm. 103) berkata,

Lanjutkan membaca “Dua Syarat Diterimanya Sebuah ‘Amal”

Orang Beristighfar Namun Dibenci oleh Allah Ta’ala

Di dalam kitab Bustanul ‘Arifin, Imam An-Nawawi rahimahullah meriwayatkan suatu kalam hikmah dari guru beliau, Al-Imam Al-Hafidh Abu Al-Baqa’ rahimahullah, dari Syaikh Abu Muhammad ‘Abdul ‘Aziz bin Ma’ali, dari Al-Qadli Abu Bakr Muhammad bin ‘Abdil Baqi Al-Anshari, dari Al-Imam Al-Hafidh Abu Bakr Al-Khatib, dari Al-Imam Al-Hafidh Abu Al-Fath Muhammad bin Ahmad bin Abi Al-Fawaris, dari Muhammad bin Ahmad Al-Warraq, beliau berkata,

Lanjutkan membaca “Orang Beristighfar Namun Dibenci oleh Allah Ta’ala”

Khazanah Ragam Bacaan Tasyahhud di dalam Shalat. Mana yang Shahih?

Bacaan tasyahhud akhir merupakan salah satu rukun qauli di dalam shalat. Sebagaimana yang telah diketahui secara umum, bahwa teknis tata cara pelaksanaan shalat (termasuk bacaan tasyahhud akhir ini) harus sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini berdasarkan sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim rahimahumallah,

Lanjutkan membaca “Khazanah Ragam Bacaan Tasyahhud di dalam Shalat. Mana yang Shahih?”